Selasa, 12 Mei 2020

Kakek Goyong Tetap Semangat Bermusik Tehyan Meski Hidup Memulung


Di usianya yang menginjak 70 tahun, Oin Sin Yang atau kakek Goyong masih bersemangat bermusik. Raut wajahnya berubah ceria kala jemarinya memainkan musik tradisional gambang kromong dan tehyan. Tehyan adalah alat musik tradisional khas Betawi yang biasanya dimainkan oleh para seniman keturunan Tionghoa saat acara pentas budaya Betawi. 

Kini, permainan alat musik tehyan sudah jarang ditemui karena masyarakat lebih senang mendengarkannya langsung lewat VCD atau perangkat ponsel digital lainnya. Meski tak setenar dulu, kakek Goyong tetap giat melestarikan alat musik tradisional tersebut.

Menggeluti Alat Musik Tehyan Sejak Tahun 1960-an 

Kakek Goyong bercerita, perkenalannya dengan alat musik tehyan berawal dari orang tua. Ayah dan ibunya adalah seniman Tehyan yang sudah melalang buana ke berbagai kota di Indonesia. 

Kakek Goyong sempat tak berminat dalam hal musik, namun kedua orang tuanya mengajarkan bahwa musik tehyan adalah warisan leluhur yang harus dilestarikan. Hingga akhirnya, pada tahun 1960-an, Goyong bersedia mempelajari musik tehyan dan mempopulerkannya hingga sekarang.

Saat kedua orang tuanya meninggal dunia, Goyong lantas mengambil alih usaha ayahnya sebagai pemusik tehyan bahkan kini ia tak hanya bermusik, namun juga membuat kerajinan alat musik tersebut. 

Di usianya yang semakin senja, kakek Goyong tak patah semangat, ia tetap melestarikan musik tehyan meski di tengah keterbatasan. Hal inilah yang membuatnya menjadi inspirasi banyak orang pemuda dan berhak mendapatkan Asuransi Syariah Indonesia.

Dari Seniman Tehyan Kakek Goyong Kini Hidup Memulung

Zaman yang semakin modern diikuti dengan biaya hidup yang semakin tinggi di wilayah perkotaan, membuat kakek Goyong dan alat musiknya raib ditelan zaman. Kakek Goyong mengaku, pendapatannya kini tak sebanyak dulu. 

Pesanan kerajinan alat musik tehyan bikinannya pun juga menurun drastis. Untuk menyambung hidup serta mencukupi kebutuhan istri dan 8 anaknya ia harus rela memulung. Maka tak heran, rumah seluas 100 meter itu dipenuhi oleh timbunan botol-botol bekas. 

Meski di tengah kesulitan ekonomi, kakek Goyong tak mau menggunakan tehyan sebagai alat musik untuk mengamen. Baginya, musik tehyan adalah peninggalan leluhur yang bernilai tinggi dan sudah seharusnya dijaga dan digunakan sesuai fungsinya. 

Maka tak heran, idealismenya membuat kakek Goyong jadi pengrajin musik tehyan yang namanya dikenal hampir di seluruh perkampungan pecinan Tjoek Tek Bio, Mekarsari, Tangerang. 

Kini, jika tak ada pesanan atau panggilan bermusik tehyan, kakek Goyong dan anaknya memilih untuk memulung mengumpulkan botol-botol plastik dari rumah ke rumah kemudian dijual ke pengepul. Jika, beruntung, kakek Goyong dan anaknya bisa membawa pulang uang sebesar Rp3.000.000,- untuk hidup selama 2 bulan.

Kehidupan yang serba terbatas menyebabkan 7 dari 8 anak kakek Goyong putus sekolah. Hanya satu anak yakni anak bungsunya yang nomor 8 bisa melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pertama. 

Perjuangan yang dilakukan oleh kakek Goyong ini tentu menginspirasi banyak anak muda untuk terus melestarikan budaya Indonesia agar tak lekang oleh waktu dan zaman. Sehingga tak heran, kakek Goyong layak mendapatkan produk asuransi syariah dari Allianz. 

Ini merupakan produk asuransi jiwa yang memberikan perlindungan maksimal sekaligus investasi bagi keluarga sepanjang hidup meski Anda sudah meninggal dunia. Artinya, keluarga akan memperoleh 100% santunan asuransi jiwa dan investasi apabila Anda meninggal dunia yang nantinya akan diberikan oleh keluarga yang masih hidup sebagai warisan. 

Selain itu, ada juga konsep asuransi tolong menolong dalam kebaikan, yakni #AwaliDenganKebaikan Anda bisa menjadi peserta asuransi syariah nantinya iuran yang diserahkan kepada Allianz akan dikumpulkan dan diberikan kepada peserta lain yang sedang kesulitan atau terkena musibah. Indahnya saling berbagi dan melakukan kebaikan bersama asuransi syariah oleh Allianz.

0 komentar:

Posting Komentar